“Mah, koper kakak dimana?”
“Bukannya kakak sendiri yang
naro!”
“Aku lupa, Mah.”
“Kebiasaan deh, Kakak. Ya sudah,
mamah cariin dulu.”
“Tolong, ya, Mah. Maaf.”
✲✲✲
Siang itu aku sudah mulai
mengkemas pakaianku ke dalam koper untuk beberapa minggu. Sedangkan mamah dan
papah ada di kamarnya bersama adik mungilku yang amat sangat manja.
Aku tak tahu seberapa lama aku
mengkemas pakaianku, yang penting setelah semua selesai aku langsung membawa
koper itu turun ke lantai bawah. Ya, supaya nanti tinggal langsung di masukin
ke dalam bagasi mobil Ayah, yang selalu ia simpan di garasi rumah.
Sebelum aku berangkat ke Jakarta,
aku pamit dulu kepada sahabat terbaikku dari kecil. Mereka tak pernah membuatku
sakit hati, iri, cemburu dan sebagainya. Ssuutt…, kalian jangan salah tebak
dulu, lho! Maksudku bukan sahabat yang berupa manusia, tapi mahluk hidup yang
sangat amat tak terbayangkan lagi.
Pohon, ya, itulah sahabatku yang
selalu membuatku tertidur lelap dan membuatku selalu merasa nyaman bersamanya.
Ooh, ya! Hampir saja aku lupa pada satu sahabatku lagi. Tumang, si sapi yang
selalu membuatku ingin bermain bersamanya tanpa mengenal lelah dan letih.
“Paman…, Bibi…,” sapaku.
“Iya, ada apa? Tumben banget ke
sini siang hari, biasanya suka sore Neng! Bibi ada di dapur, noh,” jawab Paman.
“Oh, Bibi lagi masak ya? Enggak,
Paman. Aku Cuma mau pamit aja sama yang di sini.”
“Kayaknya sih, iya. Emangnya kamu
mau pergi kemana? Pake acara pamitan segala!”
“Iya, Paman. Aku dapet undangan
tes beasiswa di Jakarta. Makanya aku mau pamit. Oh, ya paman. Kalo si Tumang
dimana?”
“Noh, lagi nyarap rumput di
kandangnya.”
“Paman, aku mau maen dulu sama
dia, sekaligus aku bawa dia ke pohon manga, ya!”
“Terserah.”
Dengan hati sumringah, aku
langung OTW (on the way, gitu deh) ke
kandangnya si Tumang, sapi milik pamanku. Aku berjalan dengan penuh harap.
Berharap… berharap apa, ya? Enthalah apa yang ada di haraoan aku saat itu.
Semua campur aduk. Kayak campuran buah yang di belender. Nnyaami…, kalo
ngomongin masalah yang seger-seger jadi haus aku. Sudahlah! Itu bukan tujuan
intinya. Heheh….
Sesampai aku di kandang si
Tumang. Kutatap ia yang sedang lahap makan ilalang yang udah paman ambil dari
kebun. Ilalang itu ia santap dengan santai. Kalo kita mungkin lagi makan,
makanan yang renyah kali yaaa? Renyaaaaah…, jadi laper juga kan. Apa lagi snack gandum yang biasa orang tuaku bawa
sehabis pulang dari kantor. Haap.., dengan segera aku pasti langsung ngerbut
tuh makanan. So pasti, orang itu makanan ke sukaanku.
“Hai,Tumang…,” sapaku sambil
mengelus-elus badannya yang besar bin gede itu.
Dengan segera ia Cuma jawab,
“Mmoo….”
Ya, iyalah. Masa sapi jawabnya, ‘
EMMBEEE…’, enggak mungkin kan. Tapi lucu kali, ya! Kalo ada sapi yang
ngomongnya kayak Embe. Hahaha… lucu!
“Tumang, ikut aku maen yuk, ke
pohon manga yang biasa, lho!” ajakku sambil menarik tambang yang terbelenggu di
lehernya.
Si Tumang terus ngoceh mulu
dengan suara khasnya. Mungkin dia lagi pengen nyanyi atau lagi pamer suara
khasnya yang sangat imut. Imut? Ya, menurutku. Kalo menerut kalian, mana tahu!
“Tumang…, aku sekarang lagi
bingung. Perasaanku antara sedih dan bahagia. Aku sedih berpisah dengan kau yag
selalu aku tumpangi di sawah sewaktu aku kecil. Dan juga aku sedih harus
berpisah dengan si pohon manga yang biasa aku gunakan untuk istirahat. Tapi,
kalo senangnya sih… hari ini aku mau ke Jakarta, mau ikut tes masuk beasiswa
sekolah menengah atas. Alias SMA.”
Berkali-kali si tumang
mengaung-ngaug, layaknya serigala yang lagi kesepian. Hehehe…, kesepian? Kayak
manusia aja kesepian. Eh, tapi jangan salah tebak juga lho! Bisa juga hewan
melebihi kita. Maksud melebihi itu, ya kesepiannya lebih dari kita.
Sesampai di hadapan si pohon
manga milik paman, aku langsung memeluk badannya yang sangat besar. Jadinya
pelukanku tak bisa sepenuhnya 360 derajat celcius.
Hahah celcius…, emangnya suhu.
“Nah, sekarang kita sudah sampai.
Jadi aku mau curhat aja sama kalian. Ya, walaupun aku tak tahu kalian akan
paham atau tidak. Tapi aku yakin kalian akan mengerti maksudku.”
Aku tak ingin langsung pada
intinya, di pertemuanku saat itu. Oleh sebab itu, aku memilih basi-basi
beberapa menit dulu bersama mereka. Ya… sekalian aku ngilangin rasa rinduku
nanti.
Hhhmmm… hampir sepuluh menit aku
bermain bersama mereka. Kuelus, kuberikan welas
asih utuknya. Aku tak mungkin lagi akan terus memanjat pohon manga ini lagi
untuk bersandar, menghilangkan rasa lelah setelah bermain bersama si tumang.
Dan aku pun tak lagi bisa bermain bersama Tumang. Aku tak bisa lagi menunggangi
pundaknya yang amat sangat kuaat buanget. Sedih. Banget malah.
“Tumang, Pohon, aku sekarang akan
pergi ke Jakarta. Perkiraan sih untuk beberapa minggu. Jadi maaf kalo aku ada
salah sama kalian.”
Tumang hanya bisa mengeluarkan
suara khasnya dan seperti ia menangis. Sotoy aku, ya. Tapi emang iya sih dia
nangis, orang aku sendiri yang lihat air matanya jatuh ke pipinya yang lebar.
Sedangkan pohon yang ku sandari ini hanya sekedar mengayunkan tubuhnya yang
lumbayan besar. Pasti lah besar, orang aku aja enggak bisa meluk dia sampai 360
derajat.
Aku rasa sudah saatnya aku pulang
dan mengatarkan si tumang. Kutarik tali tambang yang mengikat lehernya dengan
perlahan, penuh perasaan.
“Pohon, aku mau pulang dulu, ya!”
kataku sambil mengelus badannya yang sedikit kasar.
“Tumang, ayo kamu ikut aku pulang
ke rumah paman lagi!” lanjutku sambil menarik tali yang selalu terikat pada
lehernya.
Aku terus berjalan mengikuti
jalan setapak di pinggiran sawah. Yang lebarnya… ya bisa dihitung buat jalanan
orang yang sooo ssweeet. Maksudnya… ya,
buat berdua aja gitu. Heheehe.
Ada dua jalan yang berkelok, dan
harus kita lalui. Sebelum menempuh kelokan pertama, aku mencoba memalingkan
pandanganku kebelakang. Kutengok sosok besar dan tinggi itu, seperti sedang
melambaikan tangannya untukku lewat daun-daun mudanya yang mengayun kesana-
kesini dan terlihat hampir menjulang sampai langit. Wow…! Tinggi buaangeet.
Aku sangat jelas melihat daunnya
terbang melayang. Dan singgah di wajahku. Apa itu tanda pemberiannya sebagai
kenang-kenangan? Enggak tahu ah. Bisa mungkin dan tidak. Ya, sudah! Lebih baik
kusimpan aja daun itu. Pikirku.
Aku melanjutkan perjalananku
bersama si tumang, sapi milik paman yang biasa aku tumpangi. Tapi waktu kecil
aja. Selama perjalanan, aku hanya terdiam. Dan sedikit kesal sama si tumang
yang selalu megeluarkan suara khasnya yang mungkin bagi dia merdu.
Setelah aku melewati kelokan
terakhir, kulihat Mamah, sedang bersama Paman. Mungkin dia nyuruh aku cepet
pulang. Dia? Wadduh…, jangan di ikutin ya! Masa orang tua di panggil dia. Tak
boleh. Tak sopan.
“Neng…, si tumang iket aja di
pohon seri itu!”
Aku pun langsung mengikat si
tumang ke pohon seri yang ada di sampingku. Sedangkan aku langsung berlari
kecil menuju Mamah yang sedang bersama pamanku. Oh, ya. Jarak pohon yang
kumaksud sangat dekat dengan rumah paman. Jadi aku bisa lega kalau aku mengikat
dia sendirian.
“Kak. Ayo kita berangkat!” ajak
mamah.
“Paman, tolong bilang Bibi, juga
ya! Aku pamit dulu. Assalamualaikum…” kataku sambil menatap si tumang yang
sedang menundukkan kepalanya.
“Walaikumsalam. Hati-hati, ya!”
Aku dan mamah pun langsung pergi
meninggalkan rumah paman.
“Mmmooo…,” suara khas si tumang
terus terlontar.
Awalnya aku enggak mau nengok ke
dia. Tapi, lama-kelamaan aku pun nengok juga. Sedih deh akhirnya.
✲✲✲
Hari ini adalah hari pertama aku
di Jakarta. Dan hari ini juga termasuk hari yang menegangkan bagiku. Kalian
tahu enggak? Ah, pasti kalian bakal jawab ‘enggak’ soalnya aku belum kasih tahu
ceritanya. Hei, jangan serius amat bacanya! Soalnya kalian harus tahu kalo aku
lagi tegang dan hampir frustasi. Ciee bahasanya, sok keren dan sok dewasa.
Selama tes terus berlangsung,
durasi waktu pun tak akan mau kalah menangnya. Ia terus berjalan cepat seperti
halilintar yang menyambar di langit sana. 150 soal itu bukanlah hal yang biasa,
lho! Mungkin buat kalian ini hal yang udah biasa. Tapi kalo bagi aku sih no! buanget malah.
Seandainya aku peri yang diutus
Tuhan, ingin rasanya aku merubah soal-soal ini jadi mudah. Tapi buat aku aja,
ya. Mimpi kali. Nge-khayal siang bolong gini. Huh.., apa lagi kalo aku jadi
matahari di siang hari, ingin rasanya aku meredup menjdi rembulan di siang
bolong gini. Belum ada kan rembulan di siang bolong? Hei, akalo ada enak
banget, ya? Nanti aku jadi semangat deh ngisi soalnya. Soalnya kalo ada
rembulan pasti ada bintang juga.
Sudah! Sudah! Nge-khayal mulu
dari tadi. Kapan mau ngerjain nih soal? Waktu sudah tersisa 90 menit lagi,lho!
“Maaf, Pak. Ini lembar jawaban
saya,” kataku yang sok belaga imut dan sok manis gitu.
Dengan tersenyum, ia pun
menjawab, “Kamu sudah, Nak?”
Pengennya sih ngambek. Udah tahu
sudah, pake nanya lagi. Uuhh… aku yang salah apa gurunya, ya? Tapi biarlah.
Yang penting aku sekarang udah bebas dari namanya tes.
Dengan sedikit sabar, aku
akhirnya terpaksa menjawabnya, “Iya, Pak.”
“Baiklah. Kamu boleh keluar!
Nanti informasi kelulusannya akan di umumkan.”
Tanpa basa-basi lagi aku langsung
get out ke luar. Sumpah! Nyampe
keluar aku kaya orang cengo banget.
Bingung harus kemana. Tempat seluas asrama ini harus aku kelilingi dulu gitu
biar aku tahu harus kemana setelah ini? No
no no! gak mungkin, Sakura.
Ahaa…! Akhirnya aku pun punya ide
cemerlang. Dari pada bingung, mending duduk aja di kursi taman yang sudah
tertata rapi di depan mataku. Akhirnya, aku duduk manis aja di situ. Ya, semoga
aja ada yang nyantol kek buat jadi
temanku. Hehheh… aamiin, dong!
“Hei…, kamu siapa? Kok sendirian
sih?”
Sosok yang sok kenal itu muncul
dari belakangku. Untungnya aku enggak punya penyakit jantungan. Kalo punya…
bisa sekarat aku di sini. Terus nanti dia mati kebingungan. Huh.., jangan sampe
deh!
“Namaku, Sakura mentari,” jawabku
yang masih sok imut dengan ciri khasku.
“Oh. Aku, Cinta laura,” jawabnya
sok kepedean.
“…,” aku hanya bengong dan enggak
percaya sama ucapan dia.
“Bercanda, kali. Namaku, Cinta
Purwaningsih.”
“Nama yang bagus. Berarti kamu
anaknya penyayang dong?”
“Hahaha…, sotoy kamu. BTW ( by the way)
kok kamu sendirian?”
“Iya. Aku bingung di sini.
Soalnya aku enggak ada teman yang satu kampung sama aku sekarang.”
“Oh. Kampung kamu dimana?”
“Di daerah penghasil batik, alias
pekalongan.”
“Wadduh! Jawa Tengah, toh. Hei,
ikut aku kumpul sama teman-temanku, yuk!”
Tanpa basa-basi lagi, aku
langsung nurut aja. Ini kan kesempatan dalam kesempitan. Hehehe. Dan langsung
beranjak ke sekumpulan orang yang mungkin masih asing bagiku.ya, iyalah asing.
Orang belum kenal dan baru ketemu.
“Hei…, kenalin ini teman baru
gue,” kata cinta pada teman-temannya.
“Namanya siapa?” Tanya cewek yang
enggak aku kenal.
“Namaku, Sakura Mentari.”
“Berarti kamu lahir di siang
hari….”
“Wadduh…, aku lahir di perbatasan
kali….”
“Maksudnya?”
“ya, perbatasan antara pagi
hampir menuju siang.”
“Bingung. Tapi, tak penting lah!”
“Hei, Sakura. Kamu di sini jangan
pake aku kamu tapi gue dan elu!” lanjutnya.
“Hah? Kenapa?”
“Soalnya, di sini rata-rata anak
Jakarta. Kalo kamu ngomong aku kamu, nanti ada juga kamu di ledekin lho!”
“Baiklah akan aku coba,” kataku
pasrah.
✲✲✲
Setelah satu minggu aku di sini,
aku sudah banyak sekali perubahan dalam diriku. Sekarang aku enggak pernah
ngomong atau manggil orang lain dengan kata ‘aku dan kamu’ tapi ‘ gue dan elu’,
jadi kalian jangan kaget, ya! Kalo aku ngomongnya pake bahasa gue. Ya…, tahu
lah sekarang aku udah jadi anak Jakarta. Hehehh, kayanya aku lagi sombong nih.
Maaf ya!
Teet… Teet… Teet…
Bunyi bel untuk seluruh caalon
siswa, bahwa mereka harus kumpul di hari ini di lapangan. Kalian tahu tidak?
Bel ini selalu di bunyikan di pagi hari. Sebelum terbitnya fajar. Ya,
masa-masanya lagi pada mimpi dan bikin pulau. Alias tidur nyenyak.
Karena bel sudah di bunyikan,
dengan segera aku berlari menuju kamar mandi di kamarku. Oh, ya, Hampir lupa
kalo di asrama putri senior high school
ini banyak sekali kamarnya, dan kamarnya juga
kalau dihitung muat untuk 20 orangan gitu. Luas banget berarti, ya.
Aku mandi tak mungkin lama.
Karena di luar sepertinya sudah banyak yang mengantre mandi. Benar aja! Pas
kubuka pintu kamar mandi, wilih-wilih
rakyatnya udah ngatre panjang bingits.
Permisi… permisi… dan permisi.
Kata yang aku lontarkan tanpa henti sampai aku bisa melewati jalanan yang sudah
mulai sempit oleh antre-an kamar mandi di kamar gue.
“Sakura. Baru selesa, lu?”
“Iya. Eh, kok elu udah selesai
aja?”
“Iya lah. Orang pas bel gue
langsung ngibrit ke kamar samping.”
“Ngapain?”
“Pake nanya lagi. Ya, mandi lah!”
“Cin, nanti barisnya sampingan,
ya!”
“Ih, kok pake cin, lagi? Kan gue
bilang itu kayak orang pacaan aja. Kalo kayak gitu nanti kita di bilang lesbi.
Mau?”
“Enggak.”
“Hei, kira-kira menurut lo, gue
lulus enggak dari tes?”
“Man ague tahu…, lagian gue aja
enggak kepikiran sama hasil tes.”
“Yaudah, kita turun aja yuk ke
bawah biar dapet barisan pertama!”
Dan kita berdua akhirnya langsung
beranjak ke lapangan. Wadduh, baru aja sampai di hadapan lapangan, udah banyak
sekali orang yang berlarian. Langkah demi langkah berlarian hingga sampai di
madding besar. Ya, mading besarlah tujuan utama kami.
Sumpah! Gue duduk di barisan ke
tiga dari depan, untungnya. Tapi, tak pentinglah dari depan atau belakang. Inti
dan tujuannya sama aja. Hhhuu…, panas Jakarta itu bukanlah hal yang gue suka.
Dan untungnya gue bukan anak kelahiran Jakarta. Terik matahari bikin seluruh calon
peserta udah bikin rekor muri, lho! Kenapa? Ya, iyalah. Kita semua di sini pada
bikin air asin yang pastinya keluar dari kulit tubuh kita. Mungkin kalo
dikumpulin bakal dapet ribuah ember.
Mungkin.
Setelah gue liat hasil kelulusan
di mading, ternyata nama gue udah terpajang di situ. Wilih-wilih seneng banget. Bingits
malah. Oh, ya. Setelah gue tahu hasil kelulusan, gue langsung izin telepon
orang tua gue dan teman-teman gue di kampung. Tapi…, sumpah banget gue udah ceming pas nelepon teman gue, cuma gara-gara
ngomong gue dan elu. Aduuh…, gue beneran malu sama mereka. Pasti mereka udah
nilai gue yang enggak-enggak. Sakura sekarang sombong! Sakura udah berubah.
Uuuh… mereka nilai gue gimana, ya?
Awlnya gue enggak mau nelepon
orang tua gue, tapi karena gue juga kangen sama mereka, jadinya… ya, gue
telepon aja.
“Mah. Aku lulus tes. Dan minggu
ini aku akan ke bandung, terus habis itu mamah langsung jemput aku, ya!”
“Kok di jemput? Bukannya kamu
masih di sana!”
“Iya, Mah. Untuk sementara waktu
setelah para peserta study tour ke
bandung, kita di wajibkan uuntuk pulang semuanya,” jelasku.
“Oke. Kak, kamu baru seminggu aja
di Jakarta,logatnya udah berubah aja.”
“Emang ya, Mah? Mah, udah dulu,
ya! Dadah….”
✲✲✲
Tepat di hari minggu, seluruh
peserta akan berangkat ke bandung. Kami ke bandung bukan hanya rekreasi aja,
lho. Tapi, kami juga sambil belajar. Belajar memahami kehidupan.
Kami berangkat tepat pada jam
07.00 WIB. Kami menggunakan bis khusus untuk di asrama. Jadi, kami semua bisa free, rekreasi tanpa mengeluarkan
sepeser pun uang. Enak, kan? Pasti.
Oh, ya. Kalo liburan kaya gini
jadi inget waktu maen bareng teman-teman di kampung. Jadi gak sabar pengen
cepet sore. Biar bisa pulang ke kampung bareng Mamah atau Papah. Mungkin.
Gue di bandung selalu kayak anak
ayam yang enggak mau jauh dari induknya. Teman gue pergi ke kanan, gue ikut ke
kanan juga. Teman gue ke kiri, yam au enggak mau gue ngikut ke kiri.
Sumpah! Gue enggak tahu siapa
yang norak, gue apa… ah, pasti gue lah yang norak. Orang gue kan baru kali ini
ke bandung. Di sana banyak banget aksesoris. Uuhh… jadi ngiler. Makanan kali ya, ngiler.
Gue di bandung Cuma nyampe duhur
aja. Soalnya kata seluruh coordinator,
para peserta hanya boleh rekreasi sampai duhur saja. Setelah itu langsung
pulang ke asrama dan menunggu jemputan para wali dari para peserta.
16.05 WIB. Kita sudah sampai di
asrama senior high school. Wow…, enak
banget pas kita semua sampai, sudah banyak para wali yang menunggu kehadiran
anak-anaknya.
Di sepanjang tempat parkiran, gue
terus nyari mobil merah milik orang tua gue. Tapi, sayang banet gue kebingungan
di situ. Soalnya banyak banget mobil kayak orang tua gue.
“Sakura. Lu mana orang tuanya? Lu
udah di jemput, kan?” Tanya Cinta Purwaningsih.
“Iya, gue udah minta dijemput,
kok. Tapi gue enggak tahu dimana orang tua gue.”
“Kakak. Kamu sekarang udah
ngomong gue, elu? Astaga! Itu kan bahasanya enggak sopan, Kak!” ujar mamah yang
tengah mengejutkan gue.
“Mamah…,” kata gue yang sok
terkejut. Tapi emang bener sih gue terkejut banget.
“Belajar bahasa itu dengan siapa?
Mamah, enggak pernah ngajarin itu ke kakak,” omel mamah di depan teman gue
sendiri.
“Eng… enggak, Mah. Aku di sini di
suruh ngomong gue dan elu. Soalnya kalo enggak kaya gitu…,” jelas gue sedikit
terbatah-batah sambil ngeliat teman gue, Cinta, yang ada di hadapan gue.
“Alasan! Pantas saja temanMu di
kampung lagi ngegosipin kamu. Memalukan sekali. Pokoknya mamah gak mau lagi
kamu di Jakarta sendirian kaya gini lagi!”
“Kok, gitu? Kan aku enggak
sendiri, Mah!”
“Jadi kamu sekarang mulai berani
mengelak? Ayo pulang! Mamah enggak suka kamu di sini,” kata mamah sambil
menarik erat tangan gue.
Uuhh…, jadi kaya gini sih
ceritanya. Yaah… masa Cuma gara-gara itu aja sekarang gue gak boleh lagi balik ke asrama ini lagi. NYESEL…
NYESEL… NYESEL… bangeeeet.
Gue bingung gimana caranya buat
pamitan ke teman-tema gue, terutama Cinta, karena gue udah malu banget di
omelin mamah blak-blakkan di
hadapnnya. Malu eke.
Sepanjang jalan gue Cuma bisa
diem dan manyun aja. Gue bingung harus ngomong apa lagi. Sekarang gue udah
enggak boleh lagi datang ke Jakarta tanpa sanak saudara atau kerabat dekat
orang tua gue lagi. SEDIH.
The End


0 comments:
Post a Comment