Tuesday, November 25, 2014

cerpen _ Gara-gara gue dan elu…


“Mah, koper kakak dimana?”
“Bukannya kakak sendiri yang naro!”
“Aku lupa, Mah.”
“Kebiasaan deh, Kakak. Ya sudah, mamah cariin dulu.”
“Tolong, ya, Mah. Maaf.”
✲✲✲
Siang itu aku sudah mulai mengkemas pakaianku ke dalam koper untuk beberapa minggu. Sedangkan mamah dan papah ada di kamarnya bersama adik mungilku yang amat sangat manja.
Aku tak tahu seberapa lama aku mengkemas pakaianku, yang penting setelah semua selesai aku langsung membawa koper itu turun ke lantai bawah. Ya, supaya nanti tinggal langsung di masukin ke dalam bagasi mobil Ayah, yang selalu ia simpan di garasi rumah.
Sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku pamit dulu kepada sahabat terbaikku dari kecil. Mereka tak pernah membuatku sakit hati, iri, cemburu dan sebagainya. Ssuutt…, kalian jangan salah tebak dulu, lho! Maksudku bukan sahabat yang berupa manusia, tapi mahluk hidup yang sangat amat tak terbayangkan lagi.
Pohon, ya, itulah sahabatku yang selalu membuatku tertidur lelap dan membuatku selalu merasa nyaman bersamanya. Ooh, ya! Hampir saja aku lupa pada satu sahabatku lagi. Tumang, si sapi yang selalu membuatku ingin bermain bersamanya tanpa mengenal lelah dan letih.
“Paman…, Bibi…,” sapaku.
“Iya, ada apa? Tumben banget ke sini siang hari, biasanya suka sore Neng! Bibi ada di dapur, noh,” jawab Paman.
“Oh, Bibi lagi masak ya? Enggak, Paman. Aku Cuma mau pamit aja sama yang di sini.”
“Kayaknya sih, iya. Emangnya kamu mau pergi kemana? Pake acara pamitan segala!”
“Iya, Paman. Aku dapet undangan tes beasiswa di Jakarta. Makanya aku mau pamit. Oh, ya paman. Kalo si Tumang dimana?”
“Noh, lagi nyarap rumput di kandangnya.”
“Paman, aku mau maen dulu sama dia, sekaligus aku bawa dia ke pohon manga, ya!”
“Terserah.”
Dengan hati sumringah, aku langung OTW (on the way, gitu deh) ke kandangnya si Tumang, sapi milik pamanku. Aku berjalan dengan penuh harap. Berharap… berharap apa, ya? Enthalah apa yang ada di haraoan aku saat itu. Semua campur aduk. Kayak campuran buah yang di belender. Nnyaami…, kalo ngomongin masalah yang seger-seger jadi haus aku. Sudahlah! Itu bukan tujuan intinya. Heheh….
Sesampai aku di kandang si Tumang. Kutatap ia yang sedang lahap makan ilalang yang udah paman ambil dari kebun. Ilalang itu ia santap dengan santai. Kalo kita mungkin lagi makan, makanan yang renyah kali yaaa? Renyaaaaah…, jadi laper juga kan. Apa lagi snack gandum yang biasa orang tuaku bawa sehabis pulang dari kantor. Haap.., dengan segera aku pasti langsung ngerbut tuh makanan.  So pasti, orang itu makanan ke sukaanku.
“Hai,Tumang…,” sapaku sambil mengelus-elus badannya yang besar bin gede itu.
Dengan segera ia Cuma jawab, “Mmoo….”
Ya, iyalah. Masa sapi jawabnya, ‘ EMMBEEE…’, enggak mungkin kan. Tapi lucu kali, ya! Kalo ada sapi yang ngomongnya kayak Embe. Hahaha… lucu!
“Tumang, ikut aku maen yuk, ke pohon manga yang biasa, lho!” ajakku sambil menarik tambang yang terbelenggu di lehernya.
Si Tumang terus ngoceh mulu dengan suara khasnya. Mungkin dia lagi pengen nyanyi atau lagi pamer suara khasnya yang sangat imut. Imut? Ya, menurutku. Kalo menerut kalian, mana tahu!
“Tumang…, aku sekarang lagi bingung. Perasaanku antara sedih dan bahagia. Aku sedih berpisah dengan kau yag selalu aku tumpangi di sawah sewaktu aku kecil. Dan juga aku sedih harus berpisah dengan si pohon manga yang biasa aku gunakan untuk istirahat. Tapi, kalo senangnya sih… hari ini aku mau ke Jakarta, mau ikut tes masuk beasiswa sekolah menengah atas. Alias SMA.”
Berkali-kali si tumang mengaung-ngaug, layaknya serigala yang lagi kesepian. Hehehe…, kesepian? Kayak manusia aja kesepian. Eh, tapi jangan salah tebak juga lho! Bisa juga hewan melebihi kita. Maksud melebihi itu, ya kesepiannya lebih dari kita.
Sesampai di hadapan si pohon manga milik paman, aku langsung memeluk badannya yang sangat besar. Jadinya pelukanku tak bisa sepenuhnya 360 derajat celcius. Hahah celcius…, emangnya suhu.
“Nah, sekarang kita sudah sampai. Jadi aku mau curhat aja sama kalian. Ya, walaupun aku tak tahu kalian akan paham atau tidak. Tapi aku yakin kalian akan mengerti maksudku.”
Aku tak ingin langsung pada intinya, di pertemuanku saat itu. Oleh sebab itu, aku memilih basi-basi beberapa menit dulu bersama mereka. Ya… sekalian aku ngilangin rasa rinduku nanti.
Hhhmmm… hampir sepuluh menit aku bermain bersama mereka. Kuelus, kuberikan welas asih utuknya. Aku tak mungkin lagi akan terus memanjat pohon manga ini lagi untuk bersandar, menghilangkan rasa lelah setelah bermain bersama si tumang. Dan aku pun tak lagi bisa bermain bersama Tumang. Aku tak bisa lagi menunggangi pundaknya yang amat sangat kuaat buanget. Sedih. Banget malah.
“Tumang, Pohon, aku sekarang akan pergi ke Jakarta. Perkiraan sih untuk beberapa minggu. Jadi maaf kalo aku ada salah sama kalian.”
Tumang hanya bisa mengeluarkan suara khasnya dan seperti ia menangis. Sotoy aku, ya. Tapi emang iya sih dia nangis, orang aku sendiri yang lihat air matanya jatuh ke pipinya yang lebar. Sedangkan pohon yang ku sandari ini hanya sekedar mengayunkan tubuhnya yang lumbayan besar. Pasti lah besar, orang aku aja enggak bisa meluk dia sampai 360 derajat.
Aku rasa sudah saatnya aku pulang dan mengatarkan si tumang. Kutarik tali tambang yang mengikat lehernya dengan perlahan, penuh perasaan.
“Pohon, aku mau pulang dulu, ya!” kataku sambil mengelus badannya yang sedikit kasar.
“Tumang, ayo kamu ikut aku pulang ke rumah paman lagi!” lanjutku sambil menarik tali yang selalu terikat pada lehernya.
Aku terus berjalan mengikuti jalan setapak di pinggiran sawah. Yang lebarnya… ya bisa dihitung buat jalanan orang yang sooo ssweeet. Maksudnya… ya, buat berdua aja gitu. Heheehe.
Ada dua jalan yang berkelok, dan harus kita lalui. Sebelum menempuh kelokan pertama, aku mencoba memalingkan pandanganku kebelakang. Kutengok sosok besar dan tinggi itu, seperti sedang melambaikan tangannya untukku lewat daun-daun mudanya yang mengayun kesana- kesini dan terlihat hampir menjulang sampai langit. Wow…! Tinggi buaangeet.
Aku sangat jelas melihat daunnya terbang melayang. Dan singgah di wajahku. Apa itu tanda pemberiannya sebagai kenang-kenangan? Enggak tahu ah. Bisa mungkin dan tidak. Ya, sudah! Lebih baik kusimpan aja daun itu. Pikirku.
Aku melanjutkan perjalananku bersama si tumang, sapi milik paman yang biasa aku tumpangi. Tapi waktu kecil aja. Selama perjalanan, aku hanya terdiam. Dan sedikit kesal sama si tumang yang selalu megeluarkan suara khasnya yang mungkin bagi dia merdu.
Setelah aku melewati kelokan terakhir, kulihat Mamah, sedang bersama Paman. Mungkin dia nyuruh aku cepet pulang. Dia? Wadduh…, jangan di ikutin ya! Masa orang tua di panggil dia. Tak boleh. Tak sopan.
“Neng…, si tumang iket aja di pohon seri itu!”
Aku pun langsung mengikat si tumang ke pohon seri yang ada di sampingku. Sedangkan aku langsung berlari kecil menuju Mamah yang sedang bersama pamanku. Oh, ya. Jarak pohon yang kumaksud sangat dekat dengan rumah paman. Jadi aku bisa lega kalau aku mengikat dia sendirian.
“Kak. Ayo kita berangkat!” ajak mamah.
“Paman, tolong bilang Bibi, juga ya! Aku pamit dulu. Assalamualaikum…” kataku sambil menatap si tumang yang sedang menundukkan kepalanya.
“Walaikumsalam. Hati-hati, ya!”
Aku dan mamah pun langsung pergi meninggalkan rumah paman.
“Mmmooo…,” suara khas si tumang terus terlontar.
Awalnya aku enggak mau nengok ke dia. Tapi, lama-kelamaan aku pun nengok juga. Sedih deh akhirnya.
✲✲✲

Hari ini adalah hari pertama aku di Jakarta. Dan hari ini juga termasuk hari yang menegangkan bagiku. Kalian tahu enggak? Ah, pasti kalian bakal jawab ‘enggak’ soalnya aku belum kasih tahu ceritanya. Hei, jangan serius amat bacanya! Soalnya kalian harus tahu kalo aku lagi tegang dan hampir frustasi. Ciee bahasanya, sok keren dan sok dewasa.
Selama tes terus berlangsung, durasi waktu pun tak akan mau kalah menangnya. Ia terus berjalan cepat seperti halilintar yang menyambar di langit sana. 150 soal itu bukanlah hal yang biasa, lho! Mungkin buat kalian ini hal yang udah biasa. Tapi kalo bagi aku sih no! buanget malah.
Seandainya aku peri yang diutus Tuhan, ingin rasanya aku merubah soal-soal ini jadi mudah. Tapi buat aku aja, ya. Mimpi kali. Nge-khayal siang bolong gini. Huh.., apa lagi kalo aku jadi matahari di siang hari, ingin rasanya aku meredup menjdi rembulan di siang bolong gini. Belum ada kan rembulan di siang bolong? Hei, akalo ada enak banget, ya? Nanti aku jadi semangat deh ngisi soalnya. Soalnya kalo ada rembulan pasti ada bintang juga.
Sudah! Sudah! Nge-khayal mulu dari tadi. Kapan mau ngerjain nih soal? Waktu sudah tersisa 90 menit lagi,lho!
“Maaf, Pak. Ini lembar jawaban saya,” kataku yang sok belaga imut dan sok manis gitu.
Dengan tersenyum, ia pun menjawab, “Kamu sudah, Nak?”
Pengennya sih ngambek. Udah tahu sudah, pake nanya lagi. Uuhh… aku yang salah apa gurunya, ya? Tapi biarlah. Yang penting aku sekarang udah bebas dari namanya tes.
Dengan sedikit sabar, aku akhirnya terpaksa menjawabnya, “Iya, Pak.”
“Baiklah. Kamu boleh keluar! Nanti informasi kelulusannya akan di umumkan.”
Tanpa basa-basi lagi aku langsung get out ke luar. Sumpah! Nyampe keluar aku kaya orang cengo banget. Bingung harus kemana. Tempat seluas asrama ini harus aku kelilingi dulu gitu biar aku tahu harus kemana setelah ini? No no no! gak mungkin, Sakura.
Ahaa…! Akhirnya aku pun punya ide cemerlang. Dari pada bingung, mending duduk aja di kursi taman yang sudah tertata rapi di depan mataku. Akhirnya, aku duduk manis aja di situ. Ya, semoga aja ada yang nyantol kek buat jadi temanku. Hehheh… aamiin, dong!
“Hei…, kamu siapa? Kok sendirian sih?”
Sosok yang sok kenal itu muncul dari belakangku. Untungnya aku enggak punya penyakit jantungan. Kalo punya… bisa sekarat aku di sini. Terus nanti dia mati kebingungan. Huh.., jangan sampe deh!
“Namaku, Sakura mentari,” jawabku yang masih sok imut dengan ciri khasku.
“Oh. Aku, Cinta laura,” jawabnya sok kepedean.
“…,” aku hanya bengong dan enggak percaya sama ucapan dia.
“Bercanda, kali. Namaku, Cinta Purwaningsih.”
“Nama yang bagus. Berarti kamu anaknya penyayang dong?”
“Hahaha…, sotoy kamu. BTW ( by the way) kok kamu sendirian?”
“Iya. Aku bingung di sini. Soalnya aku enggak ada teman yang satu kampung sama aku sekarang.”
“Oh. Kampung kamu dimana?”
“Di daerah penghasil batik, alias pekalongan.”
“Wadduh! Jawa Tengah, toh. Hei, ikut aku kumpul sama teman-temanku, yuk!”
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung nurut aja. Ini kan kesempatan dalam kesempitan. Hehehe. Dan langsung beranjak ke sekumpulan orang yang mungkin masih asing bagiku.ya, iyalah asing. Orang belum kenal dan baru ketemu.
“Hei…, kenalin ini teman baru gue,” kata cinta pada teman-temannya.
“Namanya siapa?” Tanya cewek yang enggak aku kenal.
“Namaku, Sakura Mentari.”
“Berarti kamu lahir di siang hari….”
“Wadduh…, aku lahir di perbatasan kali….”
“Maksudnya?”
“ya, perbatasan antara pagi hampir menuju siang.”
“Bingung. Tapi, tak penting lah!”
“Hei, Sakura. Kamu di sini jangan pake aku kamu tapi gue dan elu!” lanjutnya.
“Hah? Kenapa?”
“Soalnya, di sini rata-rata anak Jakarta. Kalo kamu ngomong aku kamu, nanti ada juga kamu di ledekin lho!”
“Baiklah akan aku coba,” kataku pasrah.
✲✲✲
Setelah satu minggu aku di sini, aku sudah banyak sekali perubahan dalam diriku. Sekarang aku enggak pernah ngomong atau manggil orang lain dengan kata ‘aku dan kamu’ tapi ‘ gue dan elu’, jadi kalian jangan kaget, ya! Kalo aku ngomongnya pake bahasa gue. Ya…, tahu lah sekarang aku udah jadi anak Jakarta. Hehehh, kayanya aku lagi sombong nih. Maaf ya!
Teet… Teet… Teet…
Bunyi bel untuk seluruh caalon siswa, bahwa mereka harus kumpul di hari ini di lapangan. Kalian tahu tidak? Bel ini selalu di bunyikan di pagi hari. Sebelum terbitnya fajar. Ya, masa-masanya lagi pada mimpi dan bikin pulau. Alias tidur nyenyak.
Karena bel sudah di bunyikan, dengan segera aku berlari menuju kamar mandi di kamarku. Oh, ya, Hampir lupa kalo di asrama putri senior high school ini banyak sekali kamarnya, dan kamarnya juga  kalau dihitung muat untuk 20 orangan gitu. Luas banget berarti, ya.
Aku mandi tak mungkin lama. Karena di luar sepertinya sudah banyak yang mengantre mandi. Benar aja! Pas kubuka pintu kamar mandi, wilih-wilih rakyatnya udah ngatre panjang bingits.
Permisi… permisi… dan permisi. Kata yang aku lontarkan tanpa henti sampai aku bisa melewati jalanan yang sudah mulai sempit oleh antre-an kamar mandi di kamar gue.
“Sakura. Baru selesa, lu?”
“Iya. Eh, kok elu udah selesai aja?”
“Iya lah. Orang pas bel gue langsung ngibrit ke kamar samping.”
“Ngapain?”
“Pake nanya lagi. Ya, mandi lah!”
“Cin, nanti barisnya sampingan, ya!”
“Ih, kok pake cin, lagi? Kan gue bilang itu kayak orang pacaan aja. Kalo kayak gitu nanti kita di bilang lesbi. Mau?”
“Enggak.”
“Hei, kira-kira menurut lo, gue lulus enggak dari tes?”
“Man ague tahu…, lagian gue aja enggak kepikiran sama hasil tes.”
“Yaudah, kita turun aja yuk ke bawah biar dapet barisan pertama!”
Dan kita berdua akhirnya langsung beranjak ke lapangan. Wadduh, baru aja sampai di hadapan lapangan, udah banyak sekali orang yang berlarian. Langkah demi langkah berlarian hingga sampai di madding besar. Ya, mading besarlah tujuan utama kami.
Sumpah! Gue duduk di barisan ke tiga dari depan, untungnya. Tapi, tak pentinglah dari depan atau belakang. Inti dan tujuannya sama aja. Hhhuu…, panas Jakarta itu bukanlah hal yang gue suka. Dan untungnya gue bukan anak kelahiran Jakarta. Terik matahari bikin seluruh calon peserta udah bikin rekor muri, lho! Kenapa? Ya, iyalah. Kita semua di sini pada bikin air asin yang pastinya keluar dari kulit tubuh kita. Mungkin kalo dikumpulin bakal dapet ribuah ember. Mungkin.
Setelah gue liat hasil kelulusan di mading, ternyata nama gue udah terpajang di situ. Wilih-wilih seneng banget. Bingits malah. Oh, ya. Setelah gue tahu hasil kelulusan, gue langsung izin telepon orang tua gue dan teman-teman gue di kampung. Tapi…, sumpah banget gue udah ceming pas nelepon teman gue, cuma gara-gara ngomong gue dan elu. Aduuh…, gue beneran malu sama mereka. Pasti mereka udah nilai gue yang enggak-enggak. Sakura sekarang sombong! Sakura udah berubah. Uuuh… mereka nilai gue gimana, ya?
Awlnya gue enggak mau nelepon orang tua gue, tapi karena gue juga kangen sama mereka, jadinya… ya, gue telepon aja.
“Mah. Aku lulus tes. Dan minggu ini aku akan ke bandung, terus habis itu mamah langsung jemput aku, ya!”
“Kok di jemput? Bukannya kamu masih di sana!”
“Iya, Mah. Untuk sementara waktu setelah para peserta study tour ke bandung, kita di wajibkan uuntuk pulang semuanya,” jelasku.
“Oke. Kak, kamu baru seminggu aja di Jakarta,logatnya udah berubah aja.”
“Emang ya, Mah? Mah, udah dulu, ya! Dadah….”
✲✲✲
Tepat di hari minggu, seluruh peserta akan berangkat ke bandung. Kami ke bandung bukan hanya rekreasi aja, lho. Tapi, kami juga sambil belajar. Belajar memahami kehidupan.
Kami berangkat tepat pada jam 07.00 WIB. Kami menggunakan bis khusus untuk di asrama. Jadi, kami semua bisa free, rekreasi tanpa mengeluarkan sepeser pun uang. Enak, kan? Pasti.
Oh, ya. Kalo liburan kaya gini jadi inget waktu maen bareng teman-teman di kampung. Jadi gak sabar pengen cepet sore. Biar bisa pulang ke kampung bareng Mamah atau Papah. Mungkin.
Gue di bandung selalu kayak anak ayam yang enggak mau jauh dari induknya. Teman gue pergi ke kanan, gue ikut ke kanan juga. Teman gue ke kiri, yam au enggak mau gue ngikut ke kiri.
Sumpah! Gue enggak tahu siapa yang norak, gue apa… ah, pasti gue lah yang norak. Orang gue kan baru kali ini ke bandung. Di sana banyak banget aksesoris. Uuhh… jadi ngiler. Makanan kali ya, ngiler.
Gue di bandung Cuma nyampe duhur aja. Soalnya kata seluruh coordinator, para peserta hanya boleh rekreasi sampai duhur saja. Setelah itu langsung pulang ke asrama dan menunggu jemputan para wali dari para peserta.
16.05 WIB. Kita sudah sampai di asrama senior high school. Wow…, enak banget pas kita semua sampai, sudah banyak para wali yang menunggu kehadiran anak-anaknya.
Di sepanjang tempat parkiran, gue terus nyari mobil merah milik orang tua gue. Tapi, sayang banet gue kebingungan di situ. Soalnya banyak banget mobil kayak orang tua gue.
“Sakura. Lu mana orang tuanya? Lu udah di jemput, kan?” Tanya Cinta Purwaningsih.
“Iya, gue udah minta dijemput, kok. Tapi gue enggak tahu dimana orang tua gue.”
“Kakak. Kamu sekarang udah ngomong gue, elu? Astaga! Itu kan bahasanya enggak sopan, Kak!” ujar mamah yang tengah mengejutkan gue.
“Mamah…,” kata gue yang sok terkejut. Tapi emang bener sih gue terkejut banget.
“Belajar bahasa itu dengan siapa? Mamah, enggak pernah ngajarin itu ke kakak,” omel mamah di depan teman gue sendiri.
“Eng… enggak, Mah. Aku di sini di suruh ngomong gue dan elu. Soalnya kalo enggak kaya gitu…,” jelas gue sedikit terbatah-batah sambil ngeliat teman gue, Cinta, yang ada di hadapan gue.
“Alasan! Pantas saja temanMu di kampung lagi ngegosipin kamu. Memalukan sekali. Pokoknya mamah gak mau lagi kamu di Jakarta sendirian kaya gini lagi!”
“Kok, gitu? Kan aku enggak sendiri, Mah!”
“Jadi kamu sekarang mulai berani mengelak? Ayo pulang! Mamah enggak suka kamu di sini,” kata mamah sambil menarik erat tangan gue.
Uuhh…, jadi kaya gini sih ceritanya. Yaah… masa Cuma gara-gara itu aja sekarang gue gak boleh lagi balik ke asrama ini lagi. NYESEL… NYESEL… NYESEL… bangeeeet.
Gue bingung gimana caranya buat pamitan ke teman-tema gue, terutama Cinta, karena gue udah malu banget di omelin mamah blak-blakkan di hadapnnya. Malu eke.
Sepanjang jalan gue Cuma bisa diem dan manyun aja. Gue bingung harus ngomong apa lagi. Sekarang gue udah enggak boleh lagi datang ke Jakarta tanpa sanak saudara atau kerabat dekat orang tua gue lagi. SEDIH.
The End








0 comments:

Post a Comment

 
;